Akhlak Mulia adalah Cerminan Iman di Dada
Duhai saudariku muslimah, bagaimana pula seseorang memisahkan antara iman dan akhlak sedangkan terdapat hadits Rasulullaah Shallallaah ‘alaih wa sallam yang artinya:
“Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka.” (HR. At Tirmidzi).
Tentunya pemisahan itu adalah hal yang tak mungkin dan menyulitkan,
sedangkan dalam pelajaran yang bisa didapatkan di madrasah-madrasah saja
terdapat materi aqidah akhlak dalam satu paket buku rujukan. Hal itu
seakan memperkuat bahwa aqidah yang merupakan bentuk iman yang terdapat
di dalam dada seseorang adalah sesuatu yang berkaitan erat dengan
akhlaknya. Dengan demikian, hendaknya kita bersemangat dan berusaha
menghiasi diri dengan akhlak mulia dalam dua aspek tersebut. Hal itu
disebabkan,
“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya, sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (terj. HR. Bukhari dan Muslim).
Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbaad hafizhahullaah menjelaskan
bahwa tidak sempurna keimanan seorang muslim hingga mengamalkan isi
hadits tersebut, yakni mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana
ia suka jika kebaikan tersebut ada pada dirinya. Kebaikan tersebut
adalah meliputi perkara dunia dan akhirat serta dalam pergaulan. Hal itu
mungkin membutuhkan kerja keras, akan tetapi yakinlah bahwa dengan
kesungguhan dan kemauan serta niat yang ikhlas untuk menggapai kebaikan
dan ridha-Nya, insya Allaah akhlak mulia bukanlah angan-angan semata dan
akan dibukakan jalan keluarnya.
Ingatlah selalu motivasi ayat ini :
“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh-pen-) untuk
(mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka
jalan-jalan Kami.” (terj.QS. Al-Ankabut: 69)
Barangkali adapula yang merasa berat dan bergumam: “bagaimana mungkin
kedua aspek akhlak mulia bisa menghiasi diriku sedangkan masa laluku
demikian suram, kebiasaan burukku demikian sulit kutinggalkan, karena
demikianlah aku dididik dari semenjak aku dalam buaian, usiaku telah
lanjut dan rambutku pun telah memutih, sering sakit-sakitan dan
kesibukanku demikian banyak serta sedikit waktu luangku untuk mengolah
kepribadian…” kemudian adapula yang tetap bermaksiat dan enggan
melakukan latihan karena beranggapan akhlak buruk itu tak dapat diubah
sebagaimana bentuk badan tak dapat diubah. Hendaknya pendapat semacam
ini ditanggapi dengan pernyataan bahwa andaikan akhlak itu menolak perubaan, tentu nasihat dan peringatan tidaklah ada artinya.
Bagaimana engkau mengingkari perubaan akhlak sedangkan kita sama-sama
melihat anjing liar bisa dijinakkan. Meskipun tidak dipungkiri bahwa
sebagian akhlak ada yang mudah diubah dan ada yang sulit tetapi bukan
mustahil diubah. Pengubahan akhlak buruk menjadi mulia bukan berarti
mematikan akhlak tersebut sama sekali. Akan tetapi pengubahan tersebut
adalah dalam rangka membawa akhlak menuju jalan tengah. Yaitu jalan yang
sifatnya tidak tidak mengabaikan dan tidak pula berlebihan. Sebagaimana
amarah, jika berlebihan akan menjadi tercela dan harus diubah. Namun,
bukan berarti amarah tersebut dihilangkan karena diantara sifat orang
yang bertaqwa adalah dia pernah marah, namun dia tahan marahnya. Allah
berfirman, yang artinya:
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya.” (QS. Ali Imran: 134)
dalam ayat tersebut Allah tidak menggunakan kata-kata “dan orang-orang yang membekukan amarahnya.”
Oleh karena itu, hentikanlah bisikan-bisikan syaitan yang membisikan
kemustahilan dalam perubaan karakter buruk, akan tetapi “Berusahalah
untuk melakukan yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada
Allah dan jangan menjadi lemah (merasa tidak mampu-pen-)..” (terj. HR.
Muslim).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar