Rabu, 26 September 2012

Nasehat

Imam Asy Syafi’I berkata:
Nasehatilah aku ketika sendirian,
Dan jauhi nasehat di depan jama’ah.
Karena nasehat ditengah manusia adalah salah satu macam mencaci maki yang aku tidak suka mendengarnya
(Mawa’idz imam Asy Syafi’I 1/23).

...
Inilah cara menasehati teman
Saudara kita yg sesuai dngn syari'at Islam
Yang mulia Ketika melihat sesuatu yang kurang berkenan di hati kita
Ada baiknya kita ambil waktu untuk meluruskan niat memberikan nasehat hanya karena Allah
Dan menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikannya (tidak di tengah keramaian).


InsyaAllah hal ini mamfaat
Bagi sahabat2 kita yang selalu menjalankan kebaikan
Yang selalu di Ridhaai Allah SWT

Selasa, 25 September 2012

Pengertian Istiqomah

Istiqomah adalah berpegang teguh dengan agama dan kokoh (tegar dan tidak goyah) di atasnya.

Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam bukunya “Jami’ul Ulum wal Hikam” mengatakan:”Istiqomah adalah penempuhan jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, tanpa adanya pembengkokan ke kanan maupun ke kiri. Dan hal itu mencakup ketaatan secara keseluruhan, baik lahir maupun bathin, serta meninggalkan segala bentuk larangan.

3 air mata yang diharamkan neraka

3 air mata yang diharamkan neraka

Bismillahirrohmanirrohiim.
Dari Abû Raihanah, ia berkata;
kami keluar bersama
Rasulullah saw. dalam satu peperangan.
Kami mendengar beliau
saw. bersabda: Neraka diharamkan atas mata yang
mengeluarkan air mata karena
takut kepada Allah. Neraka diharamkan
atas mata yang tidak tidur
di jalan Allah. Abû Raihanah berkata; Aku
lupa yang ketiganya. Tapi setelahnya aku mendengar beliau
bersabda, “Neraka
diharamkan atas mata yang berpaling dari
segala yang diharamkan
Allah.” (HR. Ahmad, al-Hâkim dalam kitab
Shahih-nya, disetujui oleh adz-Dzahabi dan an-Nasâi).

Dari Ibnu Abi Malikah, ia berkata;
aku duduk bersama Abdullah
bin Amru di atas batu, maka ia berkata:
Menangislah! Jika tidak bisa berusahalah
untuk menangis.
Jika kalian mengetahui ilmu yang sebenarnya, niscaya salah seorang
dari kalian akan shalat hingga patah
punggungnya.
Dia ia akan menangis hingga suaranya terputus. (HR.
al-Hâkim dalam kitab
Shahih-nya, disetujui oleh adz-Dzahabi).
Dari Ali ra. ia berkata:
Tidak ada yang naik kuda ketika perang
Badar kecuali Miqdad.
Dan aku telah memperhatikan keadaan
kami, tidak ada yang berdiri
kecuali Rasulullah saw. di bawah suatu pohon. Beliau shalat dan
menangis hingga waktu shubuh. (HR. Ibnu Huzaimah dalam
kitab Shahih-nya).
Dari Tsauban ra., ia berkata; Rasulullah
saw. bersabda: Kebahagiaan bagi orang yang bisa
menguasai dirinya, menjadi lapang rumahnya, dan dapat menangis
oleh kesalahannya. (HR. ath-Thabrâni dengan sanad hasan).

Sungguh beruntung orang-orang yang
memiliki mata tersebut.
Semoga mamfaat
Salam dari Buya MH

3 Doa Malaikat Jibril yang diAminkan Nabi

3 Doa Malaikat Jibril yang diAminkan Nabi

"Mendekatlah kalian ke mimbar!"

Lalu kami pun mendekati mimbar itu. Ketika Rasulullah menaiki tangga mimbar yang pertama, beliau berkata, "Aamiin."

...
Ketika beliau menaiki tangga yang kedua, beliau pun berkata, "Aamiin."

Ketika beliau menaiki tangga yang ketiga, beliau pun berkata, "Aamiin."

Setelah Rasulullah saw. turun dari mimbar, kami pun berkata,

"Ya Rasulullah, sungguh kami telah mendengar dari engkau pada hari ini, sesuatu yang belum pernah kami dengar sebelumnya."

Rasulullah saw. bersabda, "Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril muncul di hadapanku dan berkata,

"Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan yang penuh berkah, tetapi tidak memperoleh keampunan." Maka aku berkata, "Amin"

Ketika aku menaiki tangga yang kedua, Jibril berkata,

"Celakalah orang yang apabila namamu disebutkan, dia tidak bersalawat ke atasmu." Aku pun berkata, Amin.'

Ketika aku melangkah ke tangga ketiga, Jibril berkata,

"Celakalah orang yang mendapati ibu bapaknya yang telah tua, atau salah satu dari keduanya, tetapi keduanya tidak menyebabkan orang itu masuk surga." Akupun berkata, Amin :" (Hr. Hakim)

Semoga mamfaat
Salam hangat dari Buya MH

Duhai Dzat yang Maha segalanya,

~BISMILLAH~

Duhai Dzat yang Maha segalanya,
Dalam cekam rasa diri,Munajat kugelar
Bersama sajadah khouf dan roja' padaMU
Hingga di perjalanan usia yang tersisa
UntukMU, untuk raih cintaMU
Yang kan kususuri di jalan cintamu

Illahi, setiap kali kekikiran membisukanku
...
KemurahanMU menjadikan ku bicara,
Setiap kali sifat-sifatku memutuskan harapanku
AnugerahMU menguatkan diriku.
Sungguh Engkau Maha Arif dan Bijaksana.

Do'a

Sahabat Buya MH yang selalu di cintai Allah.
Aamiinkan doa ini mohon pd Allah agar dilimpahkan rizki yg tak pernah putus
"Allahuma inni as-alukan na'iimal muqiimalladzii la yahuulu wa laa yazuul, Allahumma innii yaumal khauf."
Ya Allah...
aku memohon kpdMu nikmat yg kekal, yg tdk berpindah & hilang.
Ya Allah...
aku memohon kpdMu keamanan pd hari ketakutan."

Kisah contoh kesabaran

Kisah contoh kesabaran yang layak kita baca:

Abu Ibrahim bercerita:

Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang
...
Di sana kutemukan sebuah kemah lawas
kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya
ada seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang

Ternyata orang ini kedua tangannya buntung
matanya buta,dan sebatang kara tanpa sanak saudara.
Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat

Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً ..

Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia,Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia

Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh,ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi, kedua tangannya buntung,matanya buta, dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya

Kuperhatikan kondisinya sambil mencari adakah ia memiliki anak yg mengurusinya? atau isteri yg menemaninya? ternyata tak ada seorang pun

Aku beranjak mendekatinya, dan ia merasakan kehadiranku, ia lalu bertanya: “Siapa? siapa?”

“Assalaamu’alaikum, aku seorang yg tersesat dan mendapatkan kemah ini” jawabku, “Tapi kamu sendiri siapa?” tanyaku.

“Mengapa kau tinggal seorang diri di tempat ini? Di mana isterimu, anakmu, dan kerabatmu? lanjutku.

“Aku seorang yg sakit… semua orang meninggalkanku, dan kebanyakan keluargaku telah meninggal…” jawabnya.

“Namun kudengar kau mengulang-ulang perkataan: “Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…!! Demi Allah, apa kelebihan yg diberikan-Nya kepadamu, sedangkan engkau buta, faqir, buntung kedua tangannya, dan sebatang kara…?!?” ucapku.

“Aku akan menceritakannya kepadamu… tapi aku punya satu permintaan kepadamu, maukah kamu mengabulkannya?” tanyanya.

“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan mengabulkan permintaanmu” kataku.

“Engkau telah melihat sendiri betapa banyak cobaan Allah atasku, akan tetapi segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… bukankah Allah memberiku akal sehat, yg dengannya aku bisa memahami dan berfikir…?

“Betul” jawabku. lalu katanya: “Berapa banyak orang yang gila?”

“Banyak juga” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia” jawabnya.

“Bukankah Allah memberiku pendengaran, yg dengannya aku bisa mendengar adzan, memahami ucapan, dan mengetahui apa yg terjadi di sekelilingku?” tanyanya.

“Iya benar”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.

“Betapa banyak orang yang tuli tak mendengar…?” katanya.

“Banyak juga…” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tsb”, katanya.

“Bukankah Allah memberiku lisan yg dengannya aku bisa berdzikir dan menjelaskan keinginanku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. “Lantas berapa banyak orang yg bisu tidak bisa bicara?” tanyanya.

“Wah, banyak itu” jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tsb” jawabnya.

“Bukankah Allah telah menjadikanku seorang muslim yg menyembah-Nya… mengharap pahala dari-Nya… dan bersabar atas musibahku?” tanyanya.

“Iya benar” jawabku. lalu katanya: “Padahal berapa banyak orang yg menyembah berhala, salib, dan sebagainya dan mereka juga sakit? Mereka merugi di dunia dan akhirat…!!”

“Banyak sekali”, jawabku. “Maka segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas orang banyak tsb” katanya.

Pak tua terus menyebut kenikmatan Allah atas dirinya satu-persatu… dan aku semakin takjub dengan kekuatan imannya. Ia begitu mantap keyakinannya dan begitu rela terhadap pemberian Allah…

Betapa banyak pesakitan selain beliau, yg musibahnya tidak sampai seperempat dari musibah beliau… mereka ada yg lumpuh, ada yg kehilangan penglihatan dan pendengaran, ada juga yg kehilangan organ tubuhnya… tapi bila dibandingkan dengan orang ini, maka mereka tergolong ‘sehat’. Pun demikian, mereka meronta-ronta, mengeluh, dan menangis sejadi-jadinya… mereka amat tidak sabar dan tipis keimanannya terhadap balasan Allah atas musibah yg menimpa mereka, padahal pahala tersebut demikian besar…

Aku pun menyelami fikiranku makin jauh… hingga akhirnya khayalanku terputus saat pak tua mengatakan:

“Hmmm, bolehkah kusebutkan permintaanku sekarang… maukah kamu mengabulkannya?”

“Iya.. apa permintaanmu?” kataku.

Maka ia menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangis.. ia berkata: “Tidak ada lagi yg tersisa dari keluargaku melainkan seorang bocah berumur 14 tahun… dia lah yg memberiku makan dan minum, serta mewudhukan aku dan mengurusi segala keperluanku… sejak tadi malam ia keluar mencari makanan untukku dan belum kembali hingga kini. Aku tak tahu apakah ia masih hidup dan diharapkan kepulangannya, ataukah telah tiada dan kulupakan saja… dan kamu tahu sendiri keadaanku yg tua renta dan buta, yg tidak bisa mencarinya…”

Maka kutanya ciri-ciri anak tersebut dan ia menyebutkannya, maka aku berjanji akan mencarikan bocah tersebut untuknya…

Aku pun meninggalkannya dan tak tahu bagaimana mencari bocah tersebut… aku tak tahu harus memulai dari arah mana…

Namun tatkala aku berjalan dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang si bocah, nampaklah olehku dari kejauhan sebuah bukit kecil yang tak jauh letaknya dari kemah si pak tua.

Di atas bukit tersebut ada sekawanan burung gagak yg mengerumuni sesuatu… maka segeralah terbetik di benakku bahwa burung tersebut tidak lah berkerumun kecuali pada bangkai, atau sisa makanan.

Aku pun mendaki bukit tersebut dan mendatangi kawanan gagak tadi hingga mereka berhamburan terbang.

Tatkala kudatangi lokasi tersebut, ternyata si bocah telah tewas dengan badan terpotong-potong… rupanya seekor serigala telah menerkamnya dan memakan sebagian dari tubuhnya, lalu meninggalkan sisanya untuk burung-burung…

Aku lebih sedih memikirkan nasib pak tua dari pada nasib si bocah…

Aku pun turun dari bukit… dan melangkahkan kakiku dengan berat menahan kesedihan yg mendalam…

Haruskah kutinggalkan pak Tua menghadapi nasibnya sendirian… ataukah kudatangi dia dan kukabarkan nasib anaknya kepadanya?

Aku berjalan menujuk kemah pak Tua… aku bingung harus mengatakan apa dan mulai dari mana?

Lalu terlintaslah di benakku akan kisah Nabi Ayyu ‘alaihissalaam… maka kutemui pak Tua itu dan ia masih dalam kondisi yg memprihatinkan seperti saat kutinggalkan. Kuucapkan salam kepadanya, dan pak Tua yg malang ini demikian rindu ingin melihat anaknya… ia mendahuluiku dengan bertanya: “Di mana si bocah?”

Namun kataku: “Jawablah terlebih dahulu… siapakah yg lebih dicintai Allah: engkau atau Ayyub ‘alaihissalaam?”

“Tentu Ayyub ‘alaihissalaam lebih dicintai Allah” jawabnya.

“Lantas siapakah di antara kalian yg lebih berat ujiannya?” tanyaku kembali.

“Tentu Ayyub…” jawabnya.

“Kalau begitu, berharaplah pahala dari Allah karena aku mendapati anakmu telah tewas di lereng gunung… ia diterkam oleh serigala dan dikoyak-koyak tubuhnya…” jawabku.

Maka pak Tua pun tersedak-sedak seraya berkata: “Laa ilaaha illallaaah…” dan aku berusaha meringankan musibahnya dan menyabarkannya… namun sedakannya semakin keras hingga aku mulai menalqinkan kalimat syahadat kepadanya… hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Ia wafat di hadapanku, lalu kututupi jasadnya dengan selimut yg ada di bawahnya… lalu aku keluar untuk mencari orang yg membantuku mengurus jenazahnya…

Maka kudapati ada tiga orang yg mengendarai unta mereka… nampaknya mereka adalah para musafir, maka kupanggil mereka dan mereka datang menghampiriku…

Kukatakan: “Maukah kalian menerima pahala yg Allah giring kepada kalian? Di sini ada seorang muslim yg wafat dan dia tidak punya siapa-siapa yg mengurusinya… maukah kalian menolongku memandikan, mengafani dan menguburkannya?”

“Iya..” jawab mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kemah menghampiri mayat pak Tua untuk memindahkannya… namun ketika mereka menyingkap wajahnya, mereka saling berteriak: “Abu Qilabah… Abu Qilabah…!!”

Ternyata Abu Qilabah adalah salah seorang ulama mereka, akan tetapi waktu silih berganti dan ia dirundung berbagai musibah hingga menyendiri dari masyarakat dalam sebuah kemah lusuh…

Kami pun menunaikan kewajiban kami atasnya dan menguburkannya, kemudian aku kembali bersama mereka ke Madinah…

Malamnya aku bermimpi melihat Abu Qilabah dengan penampilan indah… ia mengenakan gamis putih dengan badan yg sempurna… ia berjalan-jalan di tanah yg hijau… maka aku bertanya kepadanya:

“Hai Abu Qilabah… apa yg menjadikanmu seperti yg kulihat ini?”

Maka jawabnya: “Allah telah memasukkanku ke dalam Jannah, dan dikatakan kepadaku di dalamnya:

( سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار )

Salam sejahtera atasmu sebagai balasan atas kesabaranmu… maka (inilah Surga) sebaik-baik tempat kembali

Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya: “Ats Tsiqaat” dengan penyesuaian.
Semoga mamfaat
Salam hangat dari Buya MH
Wassalam

My Blog List

Blogger news

Blogger templates

Blogger templates